Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, MAS Al Hamid mengadakan serangkaian acara yang mengedepankan nilai-nilai sejarah, perjuangan, dan kebanggaan akan para pahlawan bangsa. Salah satu kegiatan utama yang berlangsung pada hari ini adalah kunjungan sejarah dengan menggunakan kelotok, yang membawa para guru dan staff serta siswa/I MAS Al Hamid untuk menelusuri jejak-jejak pahlawan di sejumlah situs bersejarah di Banjarmasin.

Perjalanan dimulai dari pusat kota menuju ke beberapa lokasi penting, termasuk Museum Kayuh Beimbay, makam Datu Surgi Mufti, makam Datu Amin Banua Anyar, dan makam Sultan Suriansyah, dengan tujuan untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan dan kejayaan Banjarmasin serta Indonesia.
Museum Kayuh Beimbay: Melestarikan Sejarah Kalimantan

Perjalanan dimulai dengan kunjungan ke Museum Kayuh Beimbay, yang terletak di tepian Sungai Martapura. Museum ini menjadi salah satu ikon penting dalam melestarikan sejarah dan budaya Kalimantan Selatan. Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan koleksi-koleksi berharga yang menceritakan perjalanan sejarah Banjar, mulai dari masa kerajaan hingga perjuangan melawan penjajahan. Nama “Kayuh Beimbay” sendiri berasal dari filosofi masyarakat Banjar yang berarti “bersatu dan bekerja bersama”, menggambarkan semangat gotong royong yang menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Dalam kunjungan tersebut, para peserta diberikan pemahaman tentang sejarah perjuangan para pemimpin Banjar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk informasi tentang peran penting Sultan Suriansyah yang merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah Banjar. Selain itu, mereka juga dapat melihat berbagai artefak yang menggambarkan kehidupan masyarakat Banjar pada masa lalu.

Setelah dari Museum Kayuh Beimbay, rombongan melanjutkan perjalanan ke *Makam Datu Surgi Mufti, yang terletak di kawasan pegunungan di sekitar kota Banjarmasin. Setelah itu rombongan melanjutkan perjalanan menuju Makam Datu Amin Banua Anyar. Kegiatan ini juga diwarnai dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan demi tanah air. Para peserta tampak khusyuk dan penuh rasa hormat saat mendoakan arwah pahlawan tersebut.
Setelah itu kami melakukan makan siang di rumah Bapak Ahmad Effendi, S. Pd bersama. Dengan sennag gembira peserta didik beserta pendidik menikmati santap siang yang hangat dikediaman beliau. Selanjutnya rute perjalanan terakhir adalah *Makam Sultan Suriansyah*, yang terletak di kawasan pemakaman Kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah adalah Sultan pertama dari Kesultanan Banjar yang memeluk agama Islam, dan beliau memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Selain itu, Sultan Suriansyah juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan tangguh dalam menghadapi tantangan di masanya.
Selama perjalanan, kapal kelotok yang digunakan oleh peserta menjadi media yang tak hanya berfungsi sebagai transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman historis. Perjalanan dengan kapal kelotok di Sungai Martapura memberikan suasana yang khas dan memungkinkan peserta merasakan bagaimana kehidupan di sepanjang sungai, yang merupakan urat nadi perdagangan dan transportasi di Banjarmasin sejak zaman dahulu.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kepada generasi muda betapa pentingnya memahami sejarah dan mengenal para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Dengan cara yang menyenangkan dan edukatif, diharapkan semangat nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya lokal semakin tumbuh di hati setiap peserta, khususnya generasi muda.
Dengan berakhirnya kegiatan ini diharapkan siswa/i, semakin menghargai dan melestarikan nilai-nilai perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan. Kegiatan seperti ini merupakan bentuk pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini adalah hasil dari pengorbanan para pahlawan yang tak kenal lelah berjuang.
